Indonesia termasuk sebuah negara dengan keberagaman budaya yang menakjubkan terlihat dari banyaknya pulau di Indonesia dengan berbagai perbedaan yang saling berkombinasi. Perbedaan yang ada membuat Indonesia kaya akan variasi kebudayaan yang dapat membuat persatuan dan kesatuan semakin kuat serta sebaliknya dapat membuat perpecahan di masyarakat Indonesia. Semua tergantung bagaimana setiap masyarakat menanggapi perbedaan yang ada di masyarakat Indonesia dan membuat perbedaan budaya menjadi kekayaan budaya Indonesia
Reog Ponorogo merupakan salah satu bukti keberagaman budaya di Indonesia yaitu dari wilayah Jawa Timur. Nama reog Ponorogo sendiri sejalan dengan lokasi kebudayaan reog Ponorogo dikembangkan yaitu di wilayah Ponorogo, Jawa Timur. Hal ini juga sangat terlihat, ketika kita berkunjung ke Ponorogo, maka gerbang selamat datang di kota Ponorogo akan dihiasi oleh gemblak serta warok, yang merupakan dua sosok yang muncul ketika reog Ponorogo ditampilkan di berbagai kesempatan baik acara kebudayaan maupun acara besar yang diadakan di wilayah Ponorogo. Reog Ponorogo merupakan satu dari budaya khas daerah yang terdapat di Indonesia serta masih begitu erat juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan mistik dan misteri, maupun ilmu kebatinan melalui pertunjukan lakon reog yang khas dan pekat. Reog Ponorogo mulai dikenal serta menjadi kebudayaan daerah di Indonesia semenjak tahun 1920an.
Reog yang menjadi satu dari berbagai kesenian tradisional yang berkembang di berbagai wilayah di Indonesia. Reog yang sudah berkembang sejak lama ini tentu sudah banyak dibicarakan bahkan dipublikasikan dalam bentuk buku agar dapat dipelajari diantaranya yaitu buku ysng ditulis oleh Dinas Pendidikan Ponorogo dengan judul mengenal Reog Ponorogo, yaitu sebuah kesenian yang terkenal di kota yang saat ini disebuh sebagai kota Ponorogo. Terdapat dua sudut pandang dalam membahasa proses kesenian budaya Reog Ponorogo tercipta yaitu sudut pandang berdasar pada legenda serta sejarah. Pada awalnya, kara Reog berasal dari bebunyian atau suara yang keluar dari gamelan milik para pengiring saat pementasan tarian, yang akhirnya dicetuskan dengan sebutan Reog oleh Ki Ageng Surya Alam (kumpulan kliping tari-tarian daerah). Tak hanya itu, sumber lainnya menyatakan bahwa kata "Reog" atau "reyog" mempunyai makna cukup ilmu, berwibawa dan berbudi luhur. Sedangkan sejalan dengan legenda masyarakat di Ponorogo, kesenian Reog menunjukkan perjuangan seorang raja yang berusaha melamar seorang putri kerajaan, namun perjuangannya gagal sehingga menciptakan sebuah pertunjukan yang sebelumnya belum pernah terjadi. Namun, menurut sejarahnya awal, kesenian ini tercipta sekitar tahun 1200M oleh seorang patih Bantarangin yang bernama Raden Klana Wijaya yang juga disebut dengan Pujonggo Anom, yang menceritakan sebuah pertunjukan satir ditujukan pada seorang raja dengan nama Raden Klono Sewandono yang begitu menurut pada istrinya yang akhirnya membuat sang Raja lalai untuk memajukan dan memimpin wilayahnya dengan baik.
Selain pemaparan tersebut, terdapat juga pendapat yang didapatkan melalui yang buku mengenal Reog Ponorogo (Dinas Pariwisata Ponorogo) memaparkan sesuatu yang menjadi dasar kesenian Reog tercipta karena keinginan sang patih kerajaan Bantarangin; patih Pujangga Anom untuk menghibur Raja Kelono Sewandono yang sedih akibat ditinggalkan oleh Putri Dwi Songgo Langit yang adalah istrinya akibat ketidakmampuan untuk melahirkan keturunan. Sebenarnya, sang raja selalu melarang dan mencegah istrinya itu untuk pergi dari kerajaan menuju Kediri untuk melakukan pertapaan. Namun, sang istri memiliki keinginan yang besar dan sudah bulat sehingga akhirnya raja mengikhlaskan istrinya untuk pergi walau dengan hati terpaksa dan mengakibatkan kesedihan mendalam. Hal inilah yang membuat sang patih memutuskan untuk mementaskan sebuah pertunjukan tari-tarian dengan memakai kepala harimau serta seekor burung merak menghinggap di kepalanya, dengan tujuan mengenang lagi masa-masa sang raja berjuang untuk menikahi Putri Dwi Songgo Langit. Namun, pada setiap pementasan serta pagelaran yang dipentaskan oleh para seniman Reog pada waktu sekarang memakai versi R. Klana Wijaya atau dikenal sebagai Pujangga Anom yang menceritakan mengenai bagaimana raja Bantarangin Klono Sewandono berjuang untuk menikahi putri kerajaan Kediri Putri Dwi Songgo Langit.
Ada tiga kelompok penari dalam pementasan Reog yang masing-masing memiliki tugas sendi diantaranya penari kuda kepang yang umumnya diperankan oleh dua orang atau lebih, penari barongan yang bisa dibawakan oleh seorang atau lebih, maupun penari topeng yang boleh dibawakan seorang atau lebih. Tetapi semakin berkembangnya zaman, sudah begitu banyak revisi yang dilakukan dalam mementaskan tarian reog tersebut diantaranya penari kuda kepang, yang mana mulanya dibawakan oleh lelaki, tapi saat ini sejalan bersama perkembangan zaman, peran ini juga dapat dibawakan oleh anak perempuan. Para penari topeng sejalan dengan penggunaan cerita dari Pujangga Anom mengenai raja Kelono Sewandono yang berjuang, membuat kelompok tersebut dapat ditambahi dengan pemain topeng dari raja Kelono Sewandono. Warok, penari yang mengenakan pakaian Ponorogoan lengkap bergerak dengan tarian kaku sejalan dengan tugasnya menjadi prajurit-prajurit sakti mandraguna, dalam kegiatan pementasan umumnya ditemukan dua Warok yaitu Warok tua dan Warok muda.
Reog Ponorogo sejatinya bukan hanya terkenal di Indonesia namun juga sudah sampai dikenal di mancanegara. Hal ini membuktikan bahwa Reog Ponorogo memiliki kualitas dan keunikan yang khas, yang juga menjadi identitas kebudayaan yang beragam di Indonesia. Beberapa negara yang sudah mengenal dan kagum akan pertunjukan Reog Ponorogo yaitu seperti negara Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Rusia, Venezuela, Suriname, Filipina, hingga Korea. Negara tersebut juga dikenal dengan budaya yang berbeda dan tak kalah unik, namun dengan keunikan Reog Ponorogo, mereka juga bahkan unik dan mengakui kekaguman kepada budaya Reog Ponorogo milik Indonesia.
Tak hanya itu, pernah terjadi konflik antara Indonesia dengan Malaysia, yang mana pemerintah Malaysia ingin mendaftarkan Reog Ponorogo sebagai kebudayaan milik Malaysia ke UNESCO. Hal tersebut terjadi karena Malaysia yang serumpun juga dengan Indonesia menganggap Reog Ponorogo sebagai kebudayaan mereka. Hal tersebut tentu membuat pihak pemerintah Indonesia tidak terima karena memang jelas-jelas bahwa budaya Reog Ponorogo merupakan warisan budaya asli Indonesia, sehingga tentu tidak boleh begitu saha diklaim milik negara lain. Hal tersebut akhirnya membuat pihak Indonesia akhirnya segera mendaftarkan Reog Ponorogo sebagai kebudayaan milik Indonesia ke pihak UNESCO yaitu sebagai WTBT atau warisan budaya tak benda, sehingga menegaskan bahwa Reog Ponorogo memang sah milik Indonesia. Hal tersebut membuat kita sebagai generasi muda sudah seharusnya mencintai dan mempelajari budaya Indonesia sehingga tidak diklaim oleh negara lain dan demi menjaga budaya sebagai identitas Indonesia.


Posting Komentar